Nama: Syifa Tazkia.
Sekolah: SMPIT Nurul Ishlah.
Indahnya Serambi Mekkah
Yey... Libur telah tiba. Saatnya aku mempersiapkan semua perlengkapan untuk berlibur. Kali ini aku akan berlibur ke kampung halamannya Bunda. Akhirnya liburan yang sangat ku nanti-nanti telah tiba.
Oh ya, kenalin. Aku Cika, seorang remaja berusia 13 tahun yang sangat suka travelling. Ayahku orang Sunda dan Bundaku orang Aceh. Tapi, sekarang aku tinggal di Jakarta. Karena aku suka banget travelling, Ayah dan Bunda sering mengajakku jalan-jalan.
Pagi itu…“Cika, apakah kamu sudah menyiapkan semua perlengkapan untuk berlibur? Ingat! Jangan ada yang ketinggalan ya sayang.” Panggil Bunda.
Suara merdu Bunda yang sangat nyaring, sukses membuyarkan mimpi indahku. Aku langsung bergegas untuk mandi dan bersiap-siap, karena hari yang kutunggu sudah tiba. Aku pun memeriksa semua barang bawaanku, agar tidak ada yang tertinggal.
Setelah semua perlengkapan selesai, aku langsung turun untuk menyusul Ayah dan Bunda yang sudah menungguku dari tadi.
Dengan semangat yang berkobar-kobar, aku menyapa Ayah dan Bunda, “Assalamu’alaikum. Pagi Ayah, pagi Bunda. Ayo kita berangkat! Cika sudah tidak sabar ingin berlibur ke rumah Nenek.”
“Wa’alaikumussalam. Wah, anak Bunda sudah siap. Habiskan sarapanmu dan kita akan langsung berangkat.” Jawab Bunda.
Perjalanan pun dimulai. Aku melihat ke arah kanan dan kiri. Ini yang paling kusukai dari perjalanan. Memandang ciptaan Tuhan yang sangat indah, tanpa membayangkan Dzat-Nya. Perjalanan ini berlangsung selama 2 hari 3 malam. Kami pun berbuka puasa di tengah perjalanan dan melaksanakan shalat tarawih di Masjid setempat.
Setelah 2 hari 3 malam...
“Cika, bangun Nak! Kita sudah hampir sampai.” Ujar Bunda.
Aku pun terbangun. Kali ini aku tertarik untuk melihat ke arah luar jendela. Banyak pedagang dan pembeli yang sangat antusias membeli dagangan yang telah di jajarkan di pinggir jalan itu.
Aku yang penasaran, tak sungkan untuk bertanya kepada Bunda “Bunda, ini tidak seperti biasa yang aku lihat. Kenapa banyak sekali pedagang dan pembeli di pasar ini?”
“Iya Cika. Hari ini hari Mak Meugang. Dimana semua orang, memasak daging dan menikmatinya bersama para keluarga.” Jawab Bunda.
“Brukkk.”
Tiba-tiba, terdengar suara dari belakang mobil. Ternyata ada mobil yang tidak sengaja menabrak mobilku. Ayah yang kelihatan sangat panik, langsung turun untuk melihat kondisi mobil. Alangkah terkejutnya Ayah, ketika melihat bahwa yang menabrak mobil kami adalah Abinya Fifah. Fifah adalah sahabatku ketika di SD dulu. Aku sangat merindukannya. Kami sudah lama tidak berjumpa, karena Fifah sudah tinggal tetap di Banda Aceh.
“Cika, Bunda, ayo turun! Ada Fifah nih.” Panggil Ayah.
Aku yang sudah lama menahan rindu dengan Fifah, langsung bergegas turun, tanpa melihat kalau dibawah kakiku ada batu besar. Alhasil, aku pun tersandung. Lututku terluka dan celanaku sobek. Untung saja, Bunda membawa obat untuk meredakan nyeri yang aku rasakan.
Fifah yang khawatir akan keadaanku, langsung menemuiku di dalam mobil. Aku sangat takjub melihat Fifah, karena pakaian syar’i nya. Sedangkan aku, masih belum sempurna menutup aurat, layaknya seorang muslimah. Padahal, Bunda selalu mengingatkanku untuk menutup aurat dengan sempurna. Aku merasa malu dan berniat untuk merubah penampilanku agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
“Cika, kamu tidak merindukanku?” Tanya Fifah yang membuyarkan lamunanku.
“Ehm... Iya Fifah. Aku sangat merindukanmu.” Balasku dengan nada terbata-bata, karena masih berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
“Cika, mumpung hari ini hari Mak Meugang dan aku libur sekolah, boleh dong ya kita main bareng.” Ajak Fifah.
“Ehm... Fifah. Ayah mau memarkirkan mobil ke tempat yang lebih aman dulu ya. Nanti, Ayah dan Abi akan membeli daging bersama. Jadi, Fifah dan Cika masih mempunyai banyak waktu untuk bersama.” Seru Ayah yang memotong semangatku untuk menjawab pertanyaan Fifah.
“Iya Yah.” Jawabku dan Fifah dengan serentak.
Setelah Ayah memarkirkan mobil, Ayah dan Abi langsung pergi untuk melanjutkan niatnya membeli daging.
Sementara menunggu Ayah dan Abi, aku, Fifah, Bunda, dan Umi duduk di warung kopi yang ada di sekitar pasar. Warung kopi tersebut tidak menyediakan makanan dan minuman, karena dalam kondisi berpuasa.
Banyak hal konyol yang aku dan Fifah bahas. Termasuk, salah satu kue pagi yang sering dihidangkan jika tidak di bulan Ramadhan. Kata Fifah sih, namanya kue timphan. Aku serasa ingin mencobanya ketika berbuka puasa nanti.
Tak terasa, setengah jam sudah berlalu. Ayah dan Abi, sudah selesai membeli daging. Otomatis, waktuku bersama Fifah sudah habis.
“Besok jangan lupa lebaran ke rumahku ya Cik!” Ajak Fifah.
“Insya Allah Fah.” Jawabku.
Kami pun mengakhiri pertemuan hari ini, dengan bersalaman. Setelah bersalam-salaman, aku, Bunda, dan Ayah melanjutkan perjalanan ke rumah Nenek.
Tidak jauh dari pasar, kami sudah sampai di rumah Nenek. Senyuman hangat Nenek menyambut kedatangan kami.
“Cuco Nenek ka rayeuk..” Sambut Nenek sambil mengelus kepalaku.
Aku yang tidak mengerti apa yang dikatakan Nenek, berusaha tersenyum semanis mungkin, seolah aku mengerti apa yang dikatakan Nenek.
Sambil berbisik, aku bertanya kepada Bunda “Bun, itu artinya apa?” Tanyaku dengan raut wajah penasaran.
Sambil tersenyum kecil, Bunda menjawab, “Artinya: Cucu Nenek sudah besar...” Jawab Bunda masih dalam kondisi tersenyum kecil.
Aku penasaran, apa sih yang lucu dari pertanyaanku. Karena tak biasanya Bunda bersikap seperti itu.
“Bun, Bunda kenapa sih?” Tanyaku.
“Bunda tidak menyangka kamu tidak mengerti apa yang Nenek katakan. Karena kamu tersenyum begitu manis.” Jawab Bunda.
Aku yang sudah mengetahui artinya, merasa tidak rugi dengan senyuman manisku. Hehehe...
Pujian Nenek tadi, berhasil mengambangkan pikiranku. Ayah yang sudah tidak sabar ingin menyantap daging yang dibelinya tadi saat berbuka, mengajakku masuk kedalam, agar tidak terlalu lama berada di depan pintu. Nenek, Bunda, dan Tante langsung mengolah daging tersebut menjadi hidangan yang sangat lezat pastinya.
Karena adzan Dzuhur sudah berkumandang, Ayah mengajakku untuk shalat. Setelah shalat, Ayah mengajakku dan sepupuku berjalan-jalan mengelilingi kota Banda Aceh.
Tempat pertama yang kami kunjungi, adalah Museum Tsunami. Ayah membayar tiket dan kami langsung masuk ke dalam. Saat masuk ke dalam tempat bersejarah ini, aku melewati terowongan yang sangat gelap dan ada air yang mengucur di dinding terowongan.
Keluar dari terowongan itu, aku masuk ke dalam ruangan yang membuatku merinding. Terdapat lafadz “Allah” diatas ruangan tersebut dan ada banyak nama-nama korban tsunami.
Aku sangat bersyukur kepada Allah karena telah menyelamatkan Bunda dari kejadian tsunami tersebut. Aku tidak bisa berlama-lama di Museum Tsunami, karena Ayah mengajak kami untuk berkunjung ke tempat lain.
Setelah semua ruangan kami lewati, dan semua peninggalan kami amati, aku sangat tertarik dengan pajangan Al-Qur’an yang tidak begitu rusak, padahal Al-Qur’an tersebut sudah terkena tsunami.
Aku jadi teringat dengan firman Allah di dalam Q.S Al-Hijr/15:9 yang artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”
Aku pun melanjutkan perjalanan ke Museum Aceh. Ada banyak sekali peninggalan sejarah yang aku lihat disana. Aku merasa bangga, karena aku adalah keturunan darah Aceh.
Tak terasa, hari semakin sore. Adzan Ashar pun berkumandang. Kami berhenti untuk melaksanakan shalat, di salah satu Masjid kebanggaan rakyat Aceh, yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Serasa sangat sejuk berada di dalamnya. Hm…
Karena waktu berbuka hampir tiba, kami lebih memilih untuk mencari takjil dan aku tidak lupa untuk membeli timphan. Berkeliling kota sudah, mencari takjil sudah, saatnya untuk pulang dan berbuka puasa di rumah.
Puasa sudah selesai... Malam ini Ayah dan Bunda mengajakku untuk melihat takbiran.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laailaaha Illallaahu Wallaahu Akbar.” Takbir berkumandang dimana-mana. Memeriahkan Hari Raya Idul Fitri yang sudah dinantikan.
Keesokan harinya...
“Cika, bangun Nak! Sudah pagi, bergegaslah! Kita hendak melaksanakan shalat Ied bersama” Ujar Bunda yang berusaha membangunkanku agar tidak terlambat untuk shalat Ied.
Shalat Ied telah selesai. Seperti biasa, bermaaf-maafan sudah menjadi tradisi saat lebaran.
Setelah selesai bermaaf-maafan, aku menyantap lontong bersama para sahabatnya. Aku juga tidak lupa untuk menyantap daging yang yang sudah diolah menjadi rendang dan sie reuboh. Kalau rendang sih, aku sudah mencobanya kemarin ketika berbuka puasa. Tetapi, sie reuboh sangat membuatku penasaran akan rasanya, karena Nenek, Bunda, dan Tante baru memasaknya tadi pagi.
Setelah selesai makan di rumah Nenek, aku memenuhi janjiku kepada Fifah untuk bersilaturrahim ke rumahnya. Aku pun pergi ke rumah Fifah bersama Ayah dan Bunda. Aku melepaskan semua rinduku kepada Fifah sebelum aku kembali ke Jakarta.
Menurutku, ini liburan yang sangat menyenangkan. Banyak pelajaran yang dapat ku ambil dari perjalanan ini. Aku belajar untuk merubah penampilanku menjadi lebih baik, karena aku sadar bahwa menutup aurat adalah kewajibanku sebagai seorang muslimah.
Aku juga melihat banyak sejarah yang masih tersimpan dengan baik di Serambi Mekkah ini. Aku bersyukur, kali ini aku mendapatkan kesempatan untuk berlibur ke Banda Aceh.
Terima kasih Banda Aceh...
Ujung Pulau Sumatera, yang menyisakan kenangan terindah.

