Nama : Muttaqina Mafaza
Kelas : VIII-1
Sekolah : SMP IT NURUL ISHLAH
PESONA ACEH
Cut Kinara Khazanah, gadis berumur 23 tahun yang kini bekerja sebagai pemandu wisata di Aceh. Memang pekerjaan ini cukup sulit dikerjakan, tetapi rasa cintanya kepada keindahan Aceh, membuatnya terus semangat melakukan perkerjaannya sebagai pemandu wisata.
Tepat di hari sabtu, Kinar kembali melakukan pekerjaannya sebagai pemandu wisata, kali ini klien yang berdampingannya berasal dari negara Australia, cukup lumayan sulit bagi Kinar, tapi tetap saja Kinar tetap optimis melakukan pekerjaannya.
“Selamat pagi semuanya,” Dengan menggunakan bahasa inggris yang baik dan lancar. Kinar menyapa dengan ceria kliennya itu, seperti prinsipnya, hari yang bagus diawali dengan sapaan yang semangat.
“Perkenalkan, nama saya Cut Kinara Khazanah, kalian semua bisa memanggil saya Kinar. Hari ini, saya yang akan memandu kalian semua untuk berwisata di kota Banda Aceh ini. Pertama-tama, kita akan mengunjungi Museum Tsunami,” Dengan pelan, Kinar memperkenalkan diri ditambahi dengan senyuman hangatnya, membuat para kliennya sangat bersemangat untuk menjelajahi kota Banda Aceh ini.
“Selagi kita masih diperjalan, saya akan menjelaskan sedikit tentang Museum Tsunami, dan sejarah tentang bencana alam yang datang saat tahun 2004 yang lalu,”
“Pada hari Minggu, tanggal 26 Desember 2004, gempa yang berkekuatan 9,3 Skala Ritcher mengguncang daerah Aceh pada pukul 08.00 WIB. Tidak lama kemudian, ombak menghampiri daratan yang tingginya mencapai 20 meter. Yang mengakibatkan ribuan penduduk Aceh menjadi korban. Dan juga, tidak sedikit bangunan-bangunan yang hancur diakibatkan oleh bencana alam tersebut. Dari peristiwa itu, banyak masyarakat yang kehilangan anggota keluarga yang dicintainya.” Suasana di dalam bus pun hening, ketika Kinar menjelaskan peristiwa menyedihkan tersebut. Terlihat para turis itu meneteskan air mata.
Kinar pun melanjutkan penjelasannya, “Nah, setelah bencana Tsunami itu, didirikanlah Museum Tsunami pada tahun 2009 yang lalu. Museum itu dirancang oleh arsitek asal Bandung, yang bernama Ridwan Kamil. Bangunan tersebut dikonsep sebagai referensi utamanya nilai-nilai islam, budaya lokal, dan abstraksi Tsunami,” Jelas Kinar. Tidak lama memakan waktu, bus yang dipakai mereka telah sampai di Museum Tsunami.
“Kakak apakah ini Meseumnya?,” Dengan antusias, gadis berumur 7 tahun itu menanyakannya kepada Kinar.
“Iya, kita sudah sampai di Museumnya. Nah, sekarang kita bisa turun dari bus dan memasuki Museumnya,” Dengan perlahan-lahan, warga turis itu turun dari bus. Tentu suasana disana sangat ramai, ada juga beberapa penjual kaki lima yang berjualan didepan Museum itu.
Setelah melakukan pembayaran tiket, Kinar kembali menjelaskan tentang Museum tersebut. “Sebelum kita memasuki lorong gelap ini, saya tanyakan terlebih dahulu, apakah disini ada yang mengalami Phobia dengan gelap, atau yang berhubungan lainnya?” Tentu Kinar harus menanyakan persoalan ini, karena lorong yang akan mereka lalui ini sangatlah gelap.
“Disini tidak ada yang mengalami Phobia gelap, atau yang berhubungan lainnya, jadi kita bisa melanjutkan perjalanannya,” Ucap Mr. Aldrich. Setelah mendapatkan jawabannya, Kinar kembali melanjutkan perjalanannya dan menjelaskannya lebih jelas.
“Lorong gelap ini, atau sering dibilang lorong gelombang Tsunami ini memiliki ketinggian 40 meter. Disini, kalian bisa melihatnya bahwa ada efek air yang berjatuhan dengan suara musik yang menambahkan kesan seperti gelombang Tsunami,” Dengan lahkah pelan, mereka berjalan melewati lorong tersebut.
“Apakah begini rasanya saat di dalam gelombang Tsunami?” Tanya salah satu kliennya yang kini sedikit ketakutan.
“Ya, lebih kurang begini, tetapi tetap saja kejadiannya asli lebih menakutkan dari pada buatan, nah tepat di depan sana ada puluhan standing screet yang menyajikan foto foto saat waktu kejadian Tsunami,“ Dengan seksama, mereka melihatnya, bahkan ada kaget karena sangat parah sekali kerusakan yang terjadi waktu di Aceh saat itu.
Setelah beberapa menit melihati foto-foto tersebut, mereka kembali melanjutkan keruangan lain. “Ruangan ini bernama Fighting Room atau sering disebut The light of god. Ruangan ini terbentuk sebagai cerobong semi gelap yang di kelilingi oleh nama-nama korban saat waktu Tsunami, dan juga, tepat dipuncaknya terdapat tulisan Allah yang merupakan tuhannya islam. Jika berkenan mari kita berdoa menurut kepercayaan masing masing untuk para korban Tsunami Aceh, berdoa dimulai,” Semuanya terdiam, terus memanjatkan doa untuk para korban. Dan setelah itu mereka terus berjalan disertai dengan penjelasan yang Kinar berikan. Bagi mereka ini adalah pengalaman yang luar biasa hingga tidak terasa sudah menjelajahi seluruh daerah di Museum ini.
“Kita sudah bisa memasuki bus dulu, mungkin nanti kita tidak dapat memasuki rumah Aceh terlebih dahulu karena sudah memasuki waktu jam makan siang. Kali ini saya akan mengajak kalian untuk makan di salah satu tempat makan khas Aceh yang tentu terdapat makanan daerah khasnya, saya jamin pasti kalian akan menyukainya,“ Setelah menempuh waktu 30 menit untuk sampai ke tempat makan khas Aceh yang bernama Warung nasi kambing.
Makananpun sudah tersusun rapi diatas meja, banyak sekali aneka ragam makanan Aceh. Mulai dari gulai kambingnya, ayam tangkapnya, ungkot keumamah, ungkot paya, dan masih banyak lagi makanan Aceh yang cita rasa rempahnya sangat kuat, sampai sampai ada beberapa Turis yang memuji makanan khas Aceh ini.
Kinar tersenyum bahagia, karena berhasil membuat para kliennya ini mengagumi Aceh, sepertinya tidak salah dia berkerja sebagai pemandu wisata, karena perkerjaan ini sangat menyenangkan bagi Kinar.
Setelah selesai makan, tujuan mereka kali ini adalah rumah Aceh. Rumah Aceh yang dikenal sebagai rumah adat dalam Aceh, bahkan saat mendirikan rumah Aceh diperluhkan persyaratan dan proses seperti bermusyawarah terlebih dahulu dengan ulama atau teungku di daerah tersebut.
“Mohon perhatiannya. seperti yang dilihat, tetap di depan kalian merupakan rumah Aceh. Rumah Aceh ini merupakan salah satu adat dan kebudayaan Aceh yang disini saya akan menjelaskan bagian bagiannya terdapat di rumah Aceh ini,”
“Rumah adat Aceh ini berbentuk rumah panggung yang memiliki tinggi tiang 2,5 sampai 3 meter, hal ini berfungsi untuk keamanan penghuninya dari serangan binatang buas dan agar tidak masuk air saat ada datangnya banjir,” Dengan telaten dan tenang Kinar menjelaskannya, dengan tujuan agar mereka mengerti dan mendalami maksud Kinar.
“Yang ini merupakan serambi depan yang berfungsi untuk menerima tamu laki laki, ruangan ini juga sebagai tempat tidur dan tempat makan tamu laki laki. Dan ini merupakan rumah induk yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya seluruh penghuni rumah, dan disini juga terdapat kamar kamar tidur dan tempat memandikan mayat apabila ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dan satu lagi para tamu yang berdatangan ke rumah ini harus meminta izin saat masuk ke rumah atau ruangan induk ini,” Kinar menjelaskannya sambil menunjukkan letak ruangan tersebut, para turis ini tidak bisa berkata kata, betapa uniknya budaya Aceh ini dan juga syariat islamnya disini sangatlah kuat.
“Tepat dibagian belakang atau setelah ruangan induk ini terdapat serambi belakang yang berfungsi sebagai tempat dapur, ruang makan , ruang istirahat juga dan biasanya tamu perempuan memasuki rumah Aceh melalui serambi belakang, nah sampai disini ada yang ingin ditanyakan?” Kinar melihat Mrs. Alice mengangkat tangan.
“Sepertinya rumah ini banyak sekali memiliki tiangnya, kira-kira berapa jumlah tiang yang ada di rumah adat ini?” Dengan semangat Mrs. Alice menanyakannya tentu di jawab dengan hangat oleh Kinar.
“Bisa diperkirakan jumlah tiangnya ada sekitar 16, 20, 24, dan 28. Hal ini berfungsi agar memudahkan proses pemindahan rumah tanpa harus bersusah payah membongkarnya. Dan kita lanjut dengan bagian depannya lagi yang merupakan teras dari rumah Aceh ini dan letaknyapun menempel dengan serambi depan. Di belakang rumah Aceh terdapat lumbung padi, karena pada waktu itu kebanyakan warga Aceh berkerja sebagai petani dan terakhir di depannya rumah Aceh adalah keupaleh atau gerbang, tetapi membuat gerbang ini tidak terlalu umun di kalangan warga Aceh biasanya kalangan orang atas yang membuat gerbang ini,” Perkataan Kinar berhenti disebabkan ada seorang anak kecil yang merupakan anak dari Mrs. Alice pergi berlari menuju ke lonceng cakradonya.
“Bella, kamu jangan lari-lari sembarangan,” Teriak Mrs. Alice memanggil putri semata wayangnya.
“Mungkin ada satu yang saya lupakan, mari kita menuju ke tempat putri anda,” Kinar mengajak seluruh kliennya untuk mengikuti putrinya Mrs. Alice yang telah berdiri tepat di lonceng cakradonya.
“Bella jangan berlari sembarangan lagi, bagaimana nanti kalau kamu kesasar saat kami tidak melihatmu berlari,” Mrs. Alice sedikit panik dan pasrah memiliki anak yang sangat lasak dan susah diaturnya.
“Tidak apa-apa bu, mungkin dia tertarik dengan lonceng ini. Nah, Bella kamu sepertinya tertarik sekali dengan lonceng besar ini?” Dengan lembut Kinar menanyakannya kepada Bella.
“Iya, kak, soalnya lonceng ini sangat besar sekali dan berkilau,“ Lagi-lagi Bella mengaguminya, Mrs. Alice pun mulai mengerti kalau putrinya sangat menyukai benda benda yang menarik.
“Oke kalau begitu kakak akan menjelaskan lebih jelas agar kamu paham dengan asal usulnya,” Bella yang mendengarnya langsung menyiapkan telinga dengan baik, Kinar menatapnya senang.
“Lonceng ini bernama Lonceng Cakradonya, yang merupakan hadiah dari kaisar Yongle dari penguasa tiongkok untuk Sultan Samudra Pasai. Lonceng ini dibuat pada tahun 1409 Masehi, tingginya mencapai 125 sentimeter, lebar 75 sentimeter. Dan seperti yang terlihat di bagian luarnya terdapat hiasan yang tulisan Cina dan Arab. Lonceng ini juga pernah disita dan dibawa ke Banda Aceh sebagai pusat Kerajaan Aceh Darussalam pada waktu itu. Lonceng ini juga pernah di gantung di Masjid Raya Baiturrahman, baru pada tahun 1915 dari Masjid Raya Baiturrahman dibawa ke rumah Aceh ini hingga sekarang,” Kinar menjelaskannya cukup panjang lebar apalagi menggunakan bahasa inggris dengan lancar.
Saat sudah juga mengelilingi wilayah rumah Aceh itu, dengan lelah para turis dan Kinar memasuki bus mereka. “Mungkin sampai disini saya menemani kalian semua untuk mengelilingi kota Banda Aceh ini, kalau ada perkataan saya yang kuran berkenan saya mohon maaf, tapi jujur saya merasa senang mengelilingi kota ini bersama kalian, semoga kita bisa dipertemukan lagi dan semoga sampai tujuannya saat kalian kembali ke Australia,” Kinar mengucapkan kata-kata perpisahan, sampai disini pekerjaannya terhenti dan esoknya akan melayani orang lain lagi.
“Kak Kinar... Bella nggak mau pisah dengan kak Kinar,” Gadis imut yang masih berumur 7 tahun ini, sedang menangis seperti tidak ingin pisah dengan Kinar.
“Bella udah besar jadi jangan lagi nangis, kita pasti jumpa lagi kok, makanya sering-sering datang ke Aceh, nanti, kakak masakin kue khas Aceh untuk Bella,” Kinar serasa berbicara dengan adik kandungnya sendiri, tapi tetap saja, kan, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.
“Okehh, Bella akan berusaha bujuk Mama buat datang kesini lagi,” Ucap Bella dengan antusias, Kinarpun kembali tersenyum dan rasanya ingin memberi hadiah untuk Bella.
“Bella, ini kakak ada sedikit hadiah untuk Bella, dijaga, ya,” Kinar memberikan gantungan pintu Aceh kepada Bella, dan dibalas anggukan semangat dari Bella.
“Kinar terima kasih sudah menemani kami untuk mengelilingi kota ini, jujur saat kamu menjelaskannya dengan baik dan benar membuat kami semua ingin mengunjungi kota ini lagi,” Ujar Mr. Rery membuat Kinar kembali senang.
“Sudah tugas saya untuk memberikan pelayanan terbaik untuk klien saya, semoga kita bisa berjumpa lagi di lain waktu,”
“Jika kamu mengawalinya dengan sungguh sungguh, pasti mengasilkan sesuatu yang bagus,” Cut Kinara Khazanah.
The End

