admin@smpitnurulishlah.sch.id +62-3435-2356-222

Uroe Maulod


Nama: Kayyisah

Asal sekolah : Smp it Nurul ishlah.

                                                                   Uroe Maulod

Air mata Malik terus mengalir di pipinya yang bewarna sawo matang. Poninya sesekali ia tepiskan agar penglihatannya tetap terfokus pada pisau kecil, juga pada seonggok bawang merah dan bawang putih. Dalam hatinya ia bertanya, apakah bawang ini semuanya harus dikupas?

            “bu, bawang bawang ini mau di apakan? kenapa malik harus memotong bawang sebanyak ini?” Tanya Malik Sambil terus mengupas bawang bawang itu,walaupun dengan air mata yang masih terus terlinang.

Ibu hanya tersenyum sambil terus melanjutkan pekerjaanya. “Itu belum seberapa, Nak… kali ini ibu akan memasak banyak untuk kenduri maulid besok, seperti daging masak putih, sie reuboh, hmm..apalagi ya, oya asam keueung udang..juga.” Kata ibu Malik sambil menyebutkan satu per satu makanan enak khas aceh itu.

Malik membelalakkan matanya begitu mendengar nama sie reuboh juga termasuk dalam list masakan yang disebutkan ibunya. “WUAHH… ADA SIE REUBOHNYA JUGA YA BU?WAH.. bu..bu..ibu masak banyak, kan? nggak dikit bu,kan? jatah untuk Malik,bu? Ada bu? ada bu, kan?" Seketika, Ibu Malik langsung diserbu dengan berbagai pertanyaan dari anak semata wayangnya itu.

Celotehan Malik yang memburu itu, membuat ibu nya mengangguk angguk saja, sambil terus mengaduk wajan berisi santan di atas api kecil.“YES!!...” Seru Malik sambil mengepalkan tangannya ke udara.

Sang ibu lalu mengingatkan Malik agar cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Bukan hanya bawang,namun kali ini Malik juga harus mengupas jahe dan beberapa rempah rempah lain.Terhitung Hampir satu jam, Malik duduk di atas tikar, sambil mengupas satu persatu rempah-rempah wajib ini.

 Tiba tiba, saat Malik sedang asik mengupas salah satu rempah tersebut, ia mendengar, “Malik…Malik…!” suara milik Ahmad yang memanggilnya, menghibur hati Malik sore itu. Ahmad, adalah teman barunya yang belum genap 4 bulan menjadi tetangganya. Ahmad merupakan anak dari pengusaha yang besar di Medan. Ayah dan ibunya orang melayu asli. Malik pun bergegas keluar dan menjumpai Ahmad.

 

Ahmad heran melihat mata temannya, yang memerah dan berair. “Kamu kenapa Don? habis nangis, ya?” Tanya Ahmad. “Oh ini.. ibuku yang meminta tolong aku untuk mengupas bawang… katanya, insya Allah besok ibuku akan masak banyak untuk acara maulid...” Jawab Malik.

            Mendengar itu, Ahmad menggelakkan tawanya. “Hahahaha… yahh… payah, anak laki laki kok  kerjaannya kupas bawang, itukan tugas anak perempuan… Ahahahahh.” Kata Ahmad sambil terus menertawakan Malik. Dilihat dari ekspresi wajah ahmad, Malik bisa menyimpulkan. Ahmad sedang tidak serius meledeknya.

 “Banyak sekali Mad yang harus ibu kerjakan, aku harus bantu ibu… kalau enggak, kasian ibu.” Jawab Malik seadanya.

Ahmad mengangguk anggukan kepalanya,sambil memberhentikan tawanya yang menurutnya, sudah sedikit berlebihan. “Yaya… aku cuman bercanda saja kok mal..aku juga sering melakukan pekerjaan  yang seperti itu, untuk membantu ibu. aku mengerti.. “ kata Ahmad.

Malik tersenyum dan mengangguk. “Jadi, ada apa mad kamu datang ke sini?“ Tanya Malik. “oh, tadi niatnya sih mau ajak kamu ke lapangan untuk main sama temen temen,eh taunya kamu lagi bantu ibu,yaudah deh.” Jawab Ahmad.

“wah..maaf ya mad, aku gabisa ikutan main hari ini,ngupas ngupas itu pasti lama, yang ada malah keburu magrib duluan.” Ujar malik. Mendengar itu, Ahmad langsung memutar otaknya, untuk mencari cara agar Malik bisa bermain hari itu.

“hem…kalo aku bantu kamu aja boleh  ga mal? Mungkin bisa jadi lebih cepet selesai,jadi kamu sempat main deh. “ Jawab Ahmad. Dan dengan senang hati, Malik mengangguk, dan mempersilahkan Ahmad masuk ke dalam rumahnya.

            Sambil terus mengupas rempah-rempah yang ada di hadapannya, Ahmad bertanya pada ibu Malik. “Bu, kenapa ya… tradisi maulid di Aceh itu… ada masak-masaknya?.”

 “Karna, dengan memasak banyak seperti ini, kita dapat berbagi makanan kepada orang lain dengan gembira di hari lahir Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Nah, maka dari itu... setiap kampung yang mengadakan maulid, pasti mengundang kampung lain, kan. Acara maulid dibuat seperti itu agar kita bisa duduk berkumpul sambil makan makan bersama.” Jawab ibu Malik panjang lebar. “Oh… begitu, Ahmad kira… cuman untuk sekedar makan gitu aja, bu…” Kata Ahmad.

 

Beberapa saat kemudian, pekerjaan yang dilakukan Malik dan Ahmad pun selesai. Tak ada lagi sepotong pun rempah rempah yang masih berkulit. Semua telah siap untuk di olah menjadi bumbu untuk makanan khas aceh nantinya.Malik dan Ahmad pun meminta izin kepada ibu Malik untuk pergi bermain bersama teman-teman yang lain. Tentu saja, dengan senang hati sang ibu Malik mengizinkan mereka untuk pergi.

            Di tengah perjalanan, menuju lapangan tempat biasa mereka bermain, Malik dan Ahmad mendengar suara yang bisa dikatakan indah, tetapi meriah. Suara itu merupakan dentuman yang berasal dari sebuah alat musik tradisional, yang bernamakan rapai.

            Rapai sendiri sebenarnya merupakan, alat musik pukul yang berasal dari aceh. Bentuknya bulat seperti wajan. Rapai biasanya dimainkan bersama seureune kalee dan diiringi oleh syair. Rapai juga ditampilkan dalam bentuk tari, yang dinamakan, tari rapai geleng.

suara hentakan rapai itu masih terus terdengar di telinga Ahmad dan Malik. Mereka sedang berusaha untuk mencari darimana asal suara rapai tersebut. Tak disangka, ternyata rumah pak Syukri, kepala dusun, menjadi tempat sekolompok anak muda yang sedang latihan tari rapai geleng tersebut. Melihat itu, Malik dan Ahmad berniat mendatangi rumah tersebut.

Malik dan Ahmad tak beranjak dari rumah pak Syukri sejak tadi. Mereka menikmati setiap hentakan rapai dan tiupan seurune kalee. Tiba tiba, bang Hamdan, anak sulung pak Syukri lewat di depan Malik. Tak segan-segan, Malik bertanya padanya, “Bang, ini latihan untuk apa?” Hamdan tersenyum. “Ini.. untuk latihan acara maulid besok, Mal.” Jawabnya kemudian. Malik senang mendengar jawaban bang Hamdan.

                                                                       ~~~

            Keesokan harinya, di sekolah. Malik dan teman-teman sekelasnya tampak sedang menceritakan sesuatu hal yang sepertinya menarik. Hal itu terbukti karna kini, meja Malik sedang menjadi pusat kerumunan oleh teman-temannya.

            “Aku tebak nih… pasti acara maulid nanti malam itu akan meriah dan serrru…”  Kata Jul, si ketua kelas. “Jelas dong..kata ayahku ni… nanti malam akan ada ceramahnya, trus ada tarian rapai gelengnya, trus juga ada shalawat-shalawat gitu..” Balas Sulthan, si anak bungsu dari bapak  kepala dusun, pak Syukri.

            “wah..mantep kalii lahh” Kata Ahmad. “Wah.. aku jadi gak sabar lagi nih untuk datang nanti.” Kata Malik, yang dibalas anggukan oleh teman-temannya. Tak lama setelah itu, pembahasan tentang maulid oleh Malik dan teman-temannya, terpaksa harus berhenti. Hal itu karena kini, guru mata pelajaran bahasa Indonesia mereka, sudah menginjakkan kakinya di depan pintu kelas.

Di tempat lain, ayah Malik dan pamannya sedang menyewa sebuah becak motor, untuk mengantar idang meulapeeh. Idang meulapeeh merupakan hidangan makanan khas aceh yang disusun berlapis lapis. Yang nantinya akan diterima oleh panitia masjid disana.

            Selain itu, di masjid juga terdapat banyak sekali jenis-jenis makanan lain yang sudah disajikan, mulai dari nasi berbalut daun pisang dengan aroma bu kulah. Juga ada masakan wajib di setiap acara maulid, yaitu kuah beulangong.

 Ayah Malik belum lama ini menjelaskan kepada Malik apa itu beulangong. Ayah menjelaskan bahwa kuah beulangong merupakan, masakan khas Aceh, yang berbahan daging dan proses memasaknya menggunakan belanga atau sebuah kuali besar, dengan bumbu tertentu.

Selain itu, ada juga, kuah pliek, dan juga keumamah yang merupakan salah satu ciri khas kuliner Aceh. Kata ayah Malik, Keumamah merupakan ikan yang dikeringkan dan dipotong tipis-tipis yang kemudian dicampurkan dengan bumbu rempah  khas Aceh. Malik bahkan, bisa nambah nasi berkali kali jika ibu memasakkan keumamah untuknya.

Dan beberapa macam makanan khas aceh lain yang tak kalah enak, telah disusun rapi di perkarangan masjid. Lebih tepatnya di tenda dan tikar yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

                                                           ~~~

            Bel pulang sekolah pun tiba, Malik buru-buru keluar kelas karna sudah tidak sabar lagi untuk menghadiri kenduri itu. Malik berlari, mendekati ayahnya yang sejak tadi sudah menunggunya  di depan sekolah. “ayah kita langsung ke kenduri itu kan?” Tanya Malik. Ayah Malik membalas pertanyaan itu dengan anggukan.

           Sesampainya di kenduri tersebut, Malik dibuat lapar oleh beberapa makanan yang sudah dihidangkan. Sie reuboh, merupakan makanan yang tak bisa lepas dari pandangannya. Ayah Malik, kemudian mengajak anaknya itu, untuk melaksanakan shalat zuhur berjamaah di masjid. Tentunya yang dibalas anggukan oleh Malik.

          Selepas shalat zuhur, dan berdoa. Akhirnya Malik menikmati santapan yang tersedia  didepannya sekarang. Sesekali ia melirik ke tamu tamu yang berada di sekelilingnya. Malik melihat, ada seorang laki-laki paruh baya sedang memasukkan beberapa lauk pauk kedalam kantong plastik yang sudah ia siapkan dari awal.

          Melihat itu Malik bertanya kepada ayahnya. “Ayah, kenapa bapak itu membawa pulang beberapa makanan? memangnya boleh ya ayah?” Tanya Malik.

 “Boleh Mal, kan tujuannya dibuat makan besar seperti ini, untuk berbagi sesama, daripada makanan itu nanti bersisa, kan mubazir, jadi lebih baik bawa pulang ke rumah saja” Jawab ayah Malik sebelum meneguk satu gelas air timun manis.

          Sementara itu,Malik juga melihat ada seorang bapak bapak yang sedang  menggeser beberapa hidangan udang dan lainnya yang agak jauh darinya, ke hadapannya. Namun, ada juga yang hanya mengambil hidangan yang tepat didepannya saja.

Lain lagi dengan sekelompok remaja laki laki yang berada di pojok tenda. Ketika para tamu sedang menghabiskan bu kulah masing-masing, anak anak remaja disini itu malah menertawakan suatu hal dengan terbahak-bahak. Pasti orang-orang disini akan merasa terganggu, pikir Malik.  Sementara itu, tenda atau tempat ibu-ibu, dibuat terpisah dengan tenda laki laki.

           Selesai makan, panita mulai bersiap siap memindahkan makanan. Malik melihat ayahnya, yang dengan gesit membantu panitia masjid memindahkan hidangan diatas tikar. Melihat itu, Malik, ia ingin juga membantu seperti ayahnya.

          Akhirnya, hanya dengan bermodal kantong plastik yang diminta dari panitia, Malik memutuskan umtuk mulai mengumpulkan sampah-sampah seperti, tissue, dan botol yang berserakan.

Tepat pukul 3 siang, halaman masjid kembali bersih. Tak ada lagi sampah-sampah yang berserakan di sekitar halaman masjid. Malik dan ayahnya pun, memutuskan bersiap siap untuk pulang. Panitia masjid juga tidak lupa mengingatkan warganya untuk hadir pada acara ceramah maulid  Nabi nanti malam.

                                                                      ~ ~ ~

            Malik bersiap siap berangkat ke masjid bersama ayahnya, untuk melakukan shalat berjamaah, setelah mendengar adzan isya dikumandangkan.

Di masjid, Malik melihat suasana yang berbeda dari biasanya. Kali ini, jamaah masjid banyak sekali, bahkan sampai tumpah sampai ke luar masjid. Hal ini karena jamaah ingin sekaligus menyaksikan acara maulid, yang akan dilangsukan di masjid malam ini.

 Selesai shalat dan baca doa, Jamaah diminta untuk mengambil tempat duduk masing masing. Tenda yang dipasang, bersama mimbar yang telah di persiapkan untuk penceramah, diletakkan berhadapan dengan para tamu di halaman masjid.

Pembawa acara segera membuka acara pada malam itu. Dimulai dari pak geuchik, yang memberikan  sambutan dan ucapan terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpatisipasi dalam acara maulid kali ini.

Kemudian, dilanjutkan dengan penampilan tarian rapai. Sebenarnya,ditampilkannya tarian rapai geleng ini, bertujuan untuk menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan juga menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial. Syair yang digunakan dalam tarian rapai geleng ini juga digunakan sebagai sarana dakwah.

 12 orang pemuda yang sudah terlatih, tampil dengan pakaian bewarna hitam kuning, berpadu dengan manik manik merah menyala. Ditangannya terdapat sebuah rapai, yang ukurannya tidaklah  kecil. Dentuman rapai malam itu, bersuara dengan khasnya.

Pujoe keu tuhan yang peujeut alam langet ngen doa

Teuma seulawet ateh jonjongan pang uelee alam rasul ambiya

Teuma seulawet ateh jonjongan pang uelee alam rasul ambiya

Alhamdulillah pujoe ke rabbi yang maha tinggi lagie kuasa,

Neu peugoet alam langet ngen bumi sereta isi khalifah donya.

Gerakan menggeleng gelengkan kepala dengan cepat, membuat rambut mereka terkibas kesana kemari, menyemangati tarian mereka malam itu.  Ketika syair telah berhenti, dan tiupan seureune kalee tak lagi terdengar, maka habislah penampilan rapai malam itu.

Namun tak berhenti sampai rapai saja, ternyata para pemuda ini juga kembali membawakan sebuah penampilan. Yaitu, shalawat kepada nabi dengan irama yang amat merdu. Semua penonton dengan seksama mendengar shalawat tersebut.

Berakhir shalawat merdu itu, maka berakhir pula penampilan mereka pada malam itu. Acara kemudian dilanjutkan dengan mendengar ceramah oleh seorang ustadz yang sudah ditunggu tunggu penonton sejak tadi.

Seorang ustadz yang yang ditekanal baik oleh masayarakat. Ilmu agamanya tiggi namun ramah kepada siapa saja. Pencermah itu mampu mnghipnotis seluruh jamaah dengan menyampaikan sejarah hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Sesekali Malik menyeka air matanya. "Sungguh indah dan mulia pribadi Rasul kita,"  Malik membatin. Hampir 100 menit, penceramah itu menyampaiakn tausiahnya. Semua begitu berkesan dan menyentuh. Sebahian jamaah tampak mulai mengantuk. Namun tidak menyurutkan semangat Malik. Ia tetap mengikuti seluruh acara malam ini.

Acara maulid pun berakhir. Ayah dan Malik bergegas pulang. Malik melihat, ayahnya menyalami beberapa jamaah lainnya. Ia terus mengikuti kemana ayahnya bergerak. "Ayah, kita pulang sekarang?” Ungkap Malik, setelah melihat ayahnya yang sudah menjauh dari para jamaah yang lain. "Iya nak." Jawab ayahnya.

            Mereka pun bergegas pulang. Dijalan keduanya hening. Sibuk dengan pikirannya masing masing. Malik yang terkesan dengan kisah hidup Nabi Muhammad SAW, dan juga terpesona dengan kemeriahan maulid yang diadakan di daerahnya. Ayah yang sedang berpikir untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, dan akhlaknya sebagai pemimpin keluarga. Suara motor roda dua mereka, terus melaju dan memecah keheningan malam waktu itu.

                                                                       ~ ~ ~



Category : Kegiatan , Artikel , Gallery ,